Renungan Harian Umum

Pintu yang Tertutup

• oleh Pdt. Pandu Pradana Wahyudi, S.Si-Teol
Pintu yang Tertutup

Bacaan: Lukas 16:19-31

Pada musim hujan, sering kali kita melihat pemandangan yang menarik. Ketika hujan turun deras, orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Ada yang dengan ramah mempersilahkan orang lain masuk ke teras rumah atau tokonya. Namun ada pula yang segera menutup pagar, menutup pintu, dan memastikan tidak ada orang asing yang ikut berteduh di tempatnya. Padahal jarak antara kehujanan dan terlindung terkadang hanya beberapa langkah. Yang menentukan bukan jauhnya jarak, melainkan apakah ada pintu yang dibuka atau ditutup.

Kisah dalam Lukas 16:19-31 berbicara tentang sebuah pintu yang tertutup. Di satu sisi ada seorang kaya yang hidup dalam kemewahan. Ia mengenakan pakaian ungu dan kain halus, lambang kehormatan dan kekuasaan pada zaman itu. Di sisi lain ada Lazarus, seorang miskin yang terbaring di depan pintu rumahnya. Tubuhnya penuh borok dan ia berharap mendapat remah-remah makanan yang jatuh dari meja orang kaya itu. Menariknya, Yesus memberi nama kepada si miskin, tetapi tidak kepada si kaya. Dalam dunia kuno, orang kaya biasanya dikenal dan dihormati, sedangkan orang miskin dilupakan. Namun Yesus membalik cara pandang itu. Yang diingat namanya justru Lazarus.

Kesalahan orang kaya dalam perumpamaan ini bukanlah karena ia memiliki banyak harta. Yesus tidak pernah mengajarkan bahwa kekayaan itu sendiri adalah dosa. Masalahnya adalah ketidakpedulian yang berlangsung terus-menerus. Lazarus bukanlah orang asing yang tinggal di tempat jauh. Ia berada tepat di depan pintu rumahnya setiap hari. Orang kaya itu tidak perlu mencari siapa yang membutuhkan pertolongan. Ia hanya perlu membuka mata dan membuka pintu. Namun kedekatan fisik ternyata tidak selalu melahirkan kepedulian. Jarak beberapa langkah dapat berubah menjadi jurang yang sangat dalam ketika hati manusia tertutup.

Latar belakang sosial pada masa itu membuat kritik Yesus semakin tajam. Dalam masyarakat Yahudi, memberi makan orang miskin dan menunjukkan keramahtamahan merupakan kewajiban moral yang sangat dihargai. Kekayaan dipandang sebagai titipan Allah yang harus digunakan untuk memberkati orang lain. Karena itu, ketika seorang kaya mengabaikan orang miskin yang berada tepat di depan rumahnya, ia bukan sekadar gagal berbuat baik. Ia sedang mengingkari tanggung jawab yang Allah percayakan kepadanya. Dosa yang dilakukan bukan dosa perampasan, melainkan dosa pembiaran. Ia tidak melukai Lazarus secara langsung, tetapi ia membiarkan Lazarus tetap menderita di hadapannya.

Bagian berikutnya menghadirkan pembalikan keadaan yang mengejutkan. Setelah meninggal, Lazarus dibawa oleh para malaikat ke pangkuan Abraham. Dalam bahasa Yunani digunakan istilah kolpos Abraam, yang secara harfiah berarti pangkuan Abraham. Ungkapan ini bukan sekadar gambaran tempat duduk, melainkan simbol kedekatan, kehormatan, dan keselamatan. Dalam pemahaman Yahudi, Abraham adalah bapa orang beriman. Karena itu, berada di pangkuan Abraham berarti berada dalam persekutuan orang-orang yang menerima janji keselamatan Allah. Lazarus yang selama hidupnya tidak dianggap oleh manusia ternyata diterima dalam Kerajaan Allah.

Menariknya, Lazarus tidak berada di sana karena kemiskinannya. Nama Lazarus berasal dari nama Ibrani Eleazar yang berarti "Allah adalah pertolonganku". Nama ini menjadi petunjuk penting untuk memahami perumpamaan tersebut. Di tengah penderitaan dan ketidakberdayaannya, Lazarus tetap menjadi orang yang dikenal dan ditolong oleh Allah. Sementara itu Abraham yang menyambutnya juga merupakan tokoh iman yang sepanjang hidupnya percaya kepada janji Tuhan. Dengan demikian, Yesus sedang menunjukkan bahwa keselamatan bukan ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh relasi yang benar dengan Allah.

Di tengah percakapan itu, Abraham berkata bahwa saudara-saudara orang kaya telah memiliki kesaksian Musa dan para nabi. Musa di sini mewakili Taurat atau firman Allah yang telah lama diberikan kepada umat-Nya. Pernyataan ini sangat penting. Orang kaya mengira keluarganya membutuhkan mukjizat agar bertobat. Namun Abraham menegaskan bahwa firman Tuhan sebenarnya sudah lebih dari cukup. Jalan menuju Kerajaan Allah telah dinyatakan melalui Musa dan para nabi. Persoalannya bukan kurangnya tanda, melainkan kurangnya ketaatan terhadap firman yang sudah diketahui.

Di sinilah ketiga tokoh itu membentuk satu rangkaian makna yang indah. Musa menunjukkan jalan Allah melalui firman-Nya. Abraham menjadi teladan orang yang menanggapi firman itu dengan iman. Lazarus menjadi gambaran orang yang tetap berharap kepada Allah di tengah penderitaan hidupnya. Ketiganya hadir dalam lingkup keselamatan Allah. Sebaliknya, orang kaya yang kemungkinan besar juga mengenal Taurat ternyata gagal menghidupi inti firman tersebut, yaitu kasih kepada sesama. Ia mengetahui firman Tuhan, tetapi tidak membiarkan firman itu membuka pintu hatinya.

Perumpamaan ini pada akhirnya mengajak kita memeriksa pintu-pintu dalam hidup kita sendiri. Mungkin kita tidak hidup semewah orang kaya dalam kisah ini. Namun bisa saja ada orang-orang yang Tuhan tempatkan dekat dengan kita yang selama ini luput dari perhatian. Mereka mungkin adalah tetangga yang sedang kesulitan, anggota jemaat yang sedang berduka, atau seseorang yang diam-diam bergumul sendirian. Sering kali mereka tidak berada jauh dari kita. Mereka justru berada di depan pintu kehidupan kita. Pertanyaannya bukan apakah kita dapat melihat mereka, melainkan apakah kita bersedia membuka pintu hati kita. Sebab dalam Kerajaan Allah, yang diperhitungkan bukan seberapa besar harta yang kita miliki, melainkan apakah kasih Allah yang kita dengar melalui Musa, yang kita imani bersama Abraham, dan yang diharapkan oleh Lazarus benar-benar terwujud dalam tindakan kita sehari-hari. Amin.