Renungan Harian Umum

Mengingat Akar Pengharapan

• oleh Pdt. Pandu Pradana Wahyudi, S.Si-Teol
Mengingat Akar Pengharapan

Bacaan: Yesaya 51:1–6

Setiap kali bulan Agustus tiba, suasana di banyak tempat berubah. Jalan-jalan dihiasi bendera, gapura dicat kembali, lagu-lagu perjuangan terdengar, dan orangorang mulai sibuk mempersiapkan berbagai kegiatan untuk merayakan kemerdekaan. Di tengah kemeriahan itu, ada satu hal yang mudah terlewatkan: kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang sebuah tanggal, tetapi tentang mengingat perjalanan panjang yang membawa kita sampai pada hari ini. Kita berdiri sebagai bangsa karena ada orang-orang sebelum kita yang berani berharap ketika keadaan belum memberi alasan untuk berharap. Mereka mungkin tidak melihat seluruh hasil perjuangannya, tetapi mereka percaya bahwa sesuatu yang lebih baik dapat tumbuh dari keadaan yang sulit. Dari sinilah kita belajar bahwa mengingat masa lalu bukan berarti hidup di dalam masa lalu, melainkan menemukan kembali alasan untuk tetap berjalan menuju masa depan. 

Yesaya menyampaikan firman kepada orang-orang yang digambarkan sebagai “pengejar kebenaran” dan “pencari TUHAN” (ay. 1). Mereka sedang berada dalam keadaan yang tidak mudah, kemungkinan besar dalam bayangbayang pengalaman pembuangan dan kehancuran Yerusalem. Mereka melihat kenyataan yang membuat masa depan tampak kecil, sementara masa lalu terasa jauh. Karena itu, Tuhan berkata, “Pandanglah gunung batu dari mana kamu dipahat, dan kepada lobang penggalian batu dari mana kamu digali.” Gambaran batu dan lobang penggalian mengingatkan mereka kepada asal-usulnya: Abraham dan Sara. Umat yang merasa kecil diminta mengingat bahwa kehidupan mereka dahulu juga bermula dari sesuatu yang tampaknya kecil, tetapi Allah membuatnya menjadi bangsa yang besar. Di sinilah letak kekuatan ayat ini: Tuhan tidak menyuruh umat melupakan masa lalu, tetapi mengingatnya dengan cara yang benar. Abraham dan Sara bukan sekadar tokoh sejarah yang patut dikenang, melainkan bukti bahwa karya Allah sering kali dimulai dari keadaan yang tidak menjanjikan. Abraham dipanggil dari kehidupan yang sederhana, sementara Sara mengalami kenyataan bahwa mereka tidak mempunyai keturunan pada masa ketika keturunan menjadi tanda penting keberlanjutan sebuah keluarga. Namun dari keadaan itu lahir sebuah bangsa.

Dengan menunjuk kepada Abraham dan Sara, Yesaya sedang membongkar cara pandang umat yang merasa masa depannya telah berakhir. Jika dahulu Allah mampu menumbuhkan kehidupan dari sesuatu yang kecil, maka kehancuran yang mereka alami bukanlah kata terakhir. Ayat 3 kemudian membawa ingatan itu kepada Yerusalem: “Sebab TUHAN menghibur Sion, menghibur segala reruntuhannya.” Perhatikan bahwa penghiburan Tuhan tidak berhenti pada perasaan nyaman. Tuhan menjanjikan bahwa padang gurunnya akan dibuat menjadi seperti Eden dan padang belantaranya seperti taman TUHAN. Pengharapan dalam teks ini mempunyai bentuk yang konkret: kehidupan dipulihkan, tempat yang hancur dibangun kembali, dan sukacita menggantikan ratapan. Bagi umat pascapembuangan, janji itu menyentuh pengalaman sosial dan nasional mereka secara langsung. Allah tidak hanya menyelamatkan manusia secara pribadi, tetapi juga peduli terhadap kehidupan bersama, tanah, kota, kebudayaan, dan masa depan sebuah komunitas.

Karena itu, dalam ayat 4–5 perhatian diarahkan kepada “hukum” dan “keadilan”. Bangsa yang dipulihkan bukan bangsa yang sekadar kembali memiliki wilayah, melainkan bangsa yang hidup dalam terang keadilan Allah. Ini penting bagi kita ketika memperingati kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan tidak boleh berhenti sebagai perayaan sejarah, upacara, bendera, dan slogan kebangsaan. Kemerdekaan menemukan maknanya ketika manusia sungguhsungguh merasakan keadilan, ketika yang lemah tidak ditinggalkan, ketika perbedaan tidak menjadi alasan untuk merendahkan sesama, dan ketika kekuasaan dipakai untuk melayani kehidupan. Mengingat akar perjuangan bangsa berarti juga bertanya dengan jujur: apakah kehidupan bersama yang kita bangun sudah mencerminkan cita-cita keadilan dan kesejahteraan?

Menariknya, Yesaya menutup bagian ini dengan sebuah pernyataan yang sangat kuat: “Langit akan lenyap seperti asap, bumi akan usang seperti pakaian.” Bahkan sesuatu yang tampaknya kokoh dan abadi dapat mengalami perubahan. Namun keselamatan Tuhan dan keadilan-Nya tidak berhenti di tengah perubahan zaman. Pesan ini memberi perspektif yang lebih luas kepada kita sebagai warga negara sekaligus umat Tuhan. Kita boleh mencintai Indonesia dengan sungguhsungguh, tetapi kita tidak perlu menjadikan bangsa sebagai sesuatu yang mutlak, sebab pengharapan terakhir orang percaya bukan terletak pada kekuatan negara, pemimpin, ekonomi, atau keadaan politik. Semua itu penting, tetapi semuanya tetap sementara di hadapan Allah. Maka, peringatan kemerdekaan tahun ini kiranya tidak hanya mengajak kita berkata, “Dulu bangsa ini berjuang,” tetapi juga bertanya, “Apa yang sedang kita perjuangkan sekarang?” Kita dipanggil mengingat akar agar tidak kehilangan arah, mengenang perjuangan agar tidak hidup dengan sikap masa bodoh, dan merawat kemerdekaan agar tidak berubah menjadi kebebasan yang hanya menguntungkan diri sendiri.

Yesaya mengingatkan bahwa Tuhan dapat menumbuhkan masa depan dari keadaan yang tampaknya kecil dan hancur. Karena itu, jangan meremehkan tindakan sederhana yang dilakukan dengan keadilan, kejujuran, dan kasih. Dari sanalah kehidupan bersama dapat kembali bertumbuh. Dan ketika suatu hari generasi sesudah kita menengok ke belakang, kiranya mereka menemukan bahwa kita bukan hanya menikmati kemerdekaan, tetapi sungguh-sungguh menjaga maknanya. Amin.

Sumber:
Gambar Ilustrasi