Renungan Harian Umum

Melawan Kenyataan

• oleh Pdt. Pandu Pradana Wahyudi, S.Si-Teol
Melawan Kenyataan

Bacaan: Roma 4:13-25

Ada sebuah peristiwa yang menggemparkan dunia olahraga pada tahun 2019. Selama bertahun-tahun, banyak ahli menganggap lari maraton di bawah dua jam sebagai sesuatu yang nyaris mustahil. Berbagai penelitian fisiologi, statistik performa, dan catatan sejarah menunjukkan betapa sulitnya manusia menembus batas tersebut. Namun, pada suatu pagi di Wina, Austria, Eliud Kipchoge menyelesaikan maraton dalam waktu 1 jam 59 menit 40 detik. Bagi banyak orang, pencapaian itu bukan sekadar soal kecepatan, melainkan tentang keberanian menantang batas yang selama ini dianggap tidak dapat ditembus. Kenyataan yang dibangun oleh angka dan perhitungan ternyata bukanlah kata terakhir. Ada sesuatu yang mampu mendorong seseorang melampaui apa yang selama ini dianggap mustahil.

Roma 4:13-25 membawa kita pada kisah yang serupa, tetapi dalam skala yang jauh lebih besar. Paulus sedang menjelaskan mengapa Abraham disebut sebagai bapa orang beriman. Menariknya, Paulus tidak memuji Abraham karena ketaatannya pada hukum Taurat. Hal itu memang tidak mungkin, sebab Taurat baru diberikan beberapa abad setelah Abraham hidup. Paulus justru menegaskan bahwa janji Allah kepada Abraham lahir dari iman, bukan dari hukum. Penegasan ini penting karena jemaat di Roma sedang bergumul dengan pertanyaan besar: apakah seseorang harus menjadi Yahudi terlebih dahulu untuk menerima keselamatan? Melalui kisah Abraham, Paulus menunjukkan bahwa sejak awal Allah membangun hubungan dengan manusia berdasarkan iman, bukan identitas etnis maupun kemampuan menaati hukum.

Yang membuat iman Abraham istimewa adalah situasi yang melatarbelakanginya. Ketika Allah menjanjikan keturunan yang banyak, Abraham dan Sara sudah berada pada usia yang sangat lanjut. Dalam budaya Timur Dekat Kuno, memiliki keturunan bukan hanya urusan keluarga, melainkan juga menyangkut kehormatan, keberlangsungan nama, dan masa depan. Kemandulan sering dipandang sebagai aib yang membawa beban sosial tersendiri. Karena itu, janji Allah terdengar semakin sulit dipercaya. Bukan hanya tubuh mereka yang menua, tetapi juga harapan mereka telah lama terkikis oleh kenyataan hidup yang terus berbicara sebaliknya.

Di tengah situasi itulah Paulus menulis bahwa Abraham “percaya sekalipun tidak ada dasar untuk berharap.” Kalimat ini sering disalahpahami seolah-olah iman berarti menutup mata terhadap kenyataan. Padahal Abraham justru melihat kenyataan itu dengan sangat jelas. Ia sadar usianya hampir seratus tahun. Ia tahu bahwa tubuh Sara tidak lagi berada pada masa yang memungkinkan untuk melahirkan. Tidak ada penyangkalan terhadap fakta. Namun Abraham juga tidak memberikan kuasa penuh kepada fakta untuk menentukan masa depannya. Ia mengakui kenyataan, tetapi ia mempercayai Allah lebih daripada kenyataan itu sendiri.

Paulus kemudian menjelaskan dasar dari keyakinan Abraham. Ia percaya kepada Allah yang “menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.” Dengan kata lain, iman Abraham tidak bertumpu pada kekuatan dirinya, melainkan pada karakter Allah. Ia mengenal Allah sebagai Pribadi yang sanggup menciptakan kehidupan di tengah keadaan yang tampaknya telah mati. Inilah perbedaan antara iman dan optimisme. Optimisme biasanya bersandar pada peluang yang masih terlihat, sedangkan iman bersandar pada Allah bahkan ketika peluang itu hampir tidak ada lagi.

Pada bagian akhir perikop, Paulus menghubungkan pengalaman Abraham dengan Yesus Kristus. Allah yang dipercaya Abraham adalah Allah yang sama yang membangkitkan Yesus dari kematian. Bagi dunia Romawi pada abad pertama, salib adalah simbol kekalahan dan kehancuran. Tidak ada seorang pun yang melihat penyaliban sebagai awal kemenangan. Namun Allah bekerja dengan cara yang tidak terduga. Dari kematian lahirlah kehidupan. Dari kekalahan lahirlah keselamatan. Kebangkitan Kristus menjadi bukti bahwa Allah tidak tunduk pada batas-batas yang dianggap mutlak oleh manusia.

Kita pun hidup di tengah berbagai kenyataan yang kadang terasa begitu kuat. Ada kenyataan tentang usia, kesehatan, ekonomi, relasi yang retak, pelayanan yang tampak mandek, atau pergumulan yang tak kunjung selesai. Semuanya nyata dan tidak perlu disangkal. Namun firman hari ini mengingatkan bahwa orang beriman dipanggil untuk melihat lebih jauh daripada sekadar apa yang tampak di depan mata. Abraham tidak menjadi besar karena ia memiliki keadaan yang mendukung, melainkan karena ia mempercayai Allah di tengah keadaan yang tidak mendukung. Iman bukanlah kemampuan mengubah kenyataan dengan kekuatan pikiran. Iman adalah keberanian untuk tetap berjalan bersama Allah ketika kenyataan berkata “tidak mungkin”, tetapi Allah belum mengatakan “selesai”. Amin.