Di beberapa negara yang membatasi kebebasan beragama, ada orang-orang Kristen yang tidak dapat beribadah secara terbuka. Mereka berkumpul di rumah-rumah, berpindah-pindah tempat, bahkan menyembunyikan Alkitab mereka demi menghindari pengawasan. Mereka dapat menjalani hidup yang lebih aman jika memilih diam dan tidak menunjukkan identitas imannya. Namun mereka tetap berkumpul, berdoa, dan beribadah karena bagi mereka, mengikut Kristus bukan sekadar keyakinan pribadi, melainkan identitas yang tidak dapat disembunyikan selamanya. Mereka sadar bahwa ada risiko yang harus ditanggung, tetapi mereka juga percaya bahwa kesetiaan kepada Kristus lebih berharga daripada kenyamanan yang ditawarkan dunia. Kenyataan ini membantu kita memahami perkataan Yesus dalam Matius 10:24-39. Menjadi murid ternyata bukan hanya soal menerima ajaran-Nya, melainkan juga kesediaan memikul konsekuensi karena tetap membawa nama-Nya.
Bagian ini berada dalam konteks pengutusan dua belas murid. Yesus sedang mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang tidak selalu ramah terhadap pemberitaan Injil. Karena itu, Ia terlebih dahulu meruntuhkan harapan yang keliru. Seorang murid tidak lebih tinggi daripada gurunya, dan seorang hamba tidak lebih tinggi daripada tuannya. Jika Yesus sendiri dituduh sebagai Beelzebul, pemimpin roh-roh jahat, maka para pengikut-Nya tidak boleh berharap akan selalu diterima dengan baik. Dalam budaya Yahudi saat itu, tuduhan semacam ini bukan sekadar hinaan, melainkan usaha menghancurkan kehormatan seseorang di mata masyarakat. Dengan kata lain, Yesus sedang mengingatkan bahwa penolakan bukanlah tanda kegagalan pelayanan, melainkan sering kali konsekuensi dari kesetiaan kepada kebenaran.
Karena itu, menarik bahwa setelah berbicara tentang penganiayaan, Yesus justru berulang kali berkata, “Jangan takut.” Ketakutan memang menjadi salah satu alasan terbesar mengapa seseorang enggan menunjukkan identitas imannya. Orang dapat mengetahui apa yang benar, tetapi memilih diam demi menjaga kenyamanan, keamanan, atau penerimaan dari lingkungan sekitarnya. Kepada para murid, Yesus menegaskan bahwa tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan. Kebenaran mungkin ditekan untuk sementara waktu, tetapi tidak akan selamanya tertutup. Tugas murid bukanlah memastikan bahwa semua orang menerima berita Injil, melainkan tetap setia menyampaikan apa yang telah diterimanya dari Sang Guru.
Dasar keberanian itu terletak pada pemeliharaan Allah yang begitu rinci. Yesus mengingatkan tentang burung pipit yang dijual dengan harga sangat murah di pasar. Dalam pandangan manusia, nilainya hampir tidak berarti. Namun tidak seekor pun jatuh ke bumi tanpa sepengetahuan Bapa. Bahkan rambut di kepala para murid pun terhitung semuanya. Perkataan ini bukan sekadar ungkapan puitis tentang kasih Allah, melainkan penegasan bahwa kehidupan orang percaya tidak pernah berada di luar perhatian-Nya. Ketika murid menghadapi ancaman, tekanan, atau penolakan karena iman, Allah tidak sedang mengabaikan mereka. Ia mengetahui setiap pergumulan yang mereka alami.
Selanjutnya Yesus berbicara tentang mengakui atau menyangkal Dia di hadapan manusia. Dalam konteks abad pertama, pengakuan ini bukan perkara mudah. Kekaisaran Romawi menuntut kesetiaan yang tinggi kepada sistem yang berlaku. Di tengah tekanan sosial dan politik tersebut, mengakui Yesus sebagai Tuhan dapat menimbulkan berbagai konsekuensi. Karena itu, pengakuan iman dalam Alkitab bukan sekadar ucapan lisan, melainkan kesediaan untuk tetap berpihak kepada Kristus ketika keberpihakan itu menimbulkan risiko. Nama Yesus tidak dimaksudkan hanya menjadi identitas yang disimpan dalam hati, tetapi juga kesaksian yang tampak dalam kehidupan sehari-hari.
Perkataan Yesus bahwa Ia datang membawa pedang sering kali menimbulkan kesalahpahaman. Padahal pedang yang dimaksud bukanlah ajakan kepada kekerasan. Yesus sedang menggambarkan perpecahan yang dapat muncul ketika seseorang memilih mengikuti-Nya. Pada zaman itu, keluarga merupakan pusat identitas sosial seseorang. Kesetiaan kepada keluarga bahkan sering kali lebih kuat daripada kesetiaan kepada keyakinan pribadi. Namun Yesus menegaskan bahwa kasih kepada-Nya harus berada di atas semua ikatan yang lain. Bukan karena keluarga tidak penting, melainkan karena hanya Kristus yang layak menempati posisi tertinggi dalam hidup manusia.
Puncaknya terdapat pada ajakan untuk memikul salib. Bagi pendengar pertama, salib bukan simbol religius yang indah sebagaimana yang sering kita lihat sekarang. Salib adalah lambang hukuman yang memalukan dan menakutkan. Ketika Yesus meminta para murid memikul salib, Ia sedang memanggil mereka untuk tetap setia sekalipun harus menanggung kerugian, penolakan, atau penderitaan. Di sinilah letak paradoks Injil. Orang yang berusaha menyelamatkan hidupnya dengan menghindari segala risiko justru akan kehilangan makna hidup yang sejati. Sebaliknya, orang yang rela kehilangan hidupnya demi Kristus akan menemukan kehidupan yang sesungguhnya.
Matius 10:24-39 mengingatkan bahwa nama Kristus memang memiliki harga. Namun harga itu tidak pernah lebih besar daripada nilai kehidupan yang diberikan-Nya. Dunia sering mengajarkan bahwa keselamatan diri adalah tujuan utama. Sebaliknya, Yesus mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Allah adalah panggilan tertinggi. Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa aman kita menjalani hidup ini, melainkan apakah kita tetap setia kepada nama yang kita akui sebagai Tuhan ketika kesetiaan itu menuntut pengorbanan. Sebab menjadi murid Kristus berarti berani hidup dengan membawa nama-Nya, apa pun harga yang harus dibayar. Amin.